
Dalam rangka memperkuat mutu Tridarma Perguruan Tinggi dan mendorong pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU), Politeknik Katolik Mangunwijaya menyelenggarakan Workshop Strategi Penyusunan Proposal Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) pada Sabtu, 12 September 2026. Kegiatan ini diikuti dengan antusias oleh para dosen dari tiga program studi di lingkungan Politeknik Katolik Mangunwijaya guna mempersiapkan usulan proposal pendanaan hibah Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemdiktisaintek. Workshop ini menghadirkan narasumber pakar, Prof. Dr. apt. Oeke Yunita, S.Si., M.Si. dari Universitas Surabaya (UBAYA). Melalui pemaparannya, Prof. Oeke membagikan panduan teknis, strategi substantif, hingga telaah administratif agar proposal pengabdian mampu lolos pendanaan kompetitif nasional pada portal BIMA Kemdiktisaintek.
Dalam sesi pembuka, Prof. Oeke menegaskan bahwa perolehan hibah PKM tidak hanya bermanfaat langsung bagi personal dosen dalam pemenuhan BKD, kenaikan jabatan fungsional, dan publikasi ilmiah berbasis komunitas, tetapi juga memberikan dampak strategis bagi institusi. Keterlibatan dosen dalam skema kompetitif ini berkontribusi mendongkrak indikator akreditasi (LAM-PTKes & BAN-PT), memperluas jejaring kemitraan, serta mengukuhkan reputasi nasional perguruan tinggi. Memahami Ragam Skema Pengabdian RegulerMateri membedah peta skema reguler pendanaan DPPM yang terbagi menjadi tiga pilar utama:
- Pemberdayaan Berbasis Masyarakat (PBM): Meliputi Pemberdayaan Masyarakat Pemula (PMP, plafon Rp25 juta), Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM, plafon Rp50 juta), dan Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM, plafon Rp80 juta).
- Pemberdayaan Berbasis Kewirausahaan (PBK): Melalui skema Pemberdayaan Mitra Usaha Produk Unggulan Daerah (PM-UPUD, plafon Rp150 juta selama 3 tahun).
- Pemberdayaan Berbasis Wilayah (PBW): Mencakup Pemberdayaan Wilayah (PW, plafon Rp200 juta/tahun) dan Pemberdayaan Desa Binaan (PDB, plafon Rp150 juta/tahun). Ditekankan pula kepatuhan terhadap syarat tim multidisiplin lintas bidang ilmu, batas jarak ke mitra (maksimal 100 km untuk PMP dan 200 km untuk PKM), serta rekam jejak SINTA Score ketua pengusul.
Menghubungkan Masalah, Solusi, dan Level Keberdayaan MitraSalah satu poin krusial dalam workshop adalah pentingnya membangun benang merah antara Permasalahan Mitra, Solusi Teknologi/Inovasi, dan Target Luaran. Intervensi pengabdian diarahkan untuk menyasar minimal dua dari Empat Kuadran Level Keberdayaan Mitra:
- Produksi: Peningkatan kapasitas, kualitas, diversifikasi, maupun sertifikasi/standarisasi produk. Manajemen: Tata kelola organisasi, pembukuan finansial/rencana bisnis, serta sistem inventaris atau mini-ERP.
- Pemasaran: Perluasan pasar, strategi digital, hingga pertumbuhan omzet/revenue.
- Sosial Kemasyarakatan: Peningkatan pengetahuan, keterampilan, kesehatan masyarakat, dan akses layanan publik.
Setiap luaran keberdayaan wajib dirumuskan secara terukur (baseline vs target capaian kuantitatif). Dokumentasi pelaksanaan pun dituntut memperlihatkan proses aksi nyata dan alih teknologi, bukan sekadar foto seremonial bersama mitra. Ketelitian Seleksi Administrasi dan Kunci KelolosanBanyak usulan gugur pada tahap awal akibat ketidaktelitian administratif. Prof. Oeke mengingatkan dosen-dosen Polteka Mangunwijaya untuk memastikan: Kesesuaian jumlah kata per bagian dengan format panduan resmi. Penggunaan sistem sitasi Vancouver (angka) yang terhubung langsung dengan daftar pustaka. Pencantuman lampiran peta rute (Google Maps) yang membuktikan jarak PT ke mitra sasaran secara riil. Legalitas surat pernyataan mitra dan orisinalitas yang bermeterai Rp10.000 (disertai penempatan tanda tangan basah menyentuh fisik meterai atau peletakan e-Meterai resmi secara berdampingan tanpa bertumpuk). Melalui terselenggaranya workshop ini, para dosen dari ketiga program studi Politeknik Katolik Mangunwijaya diharapkan semakin percaya diri dan matang dalam merancang proposal bernas, sehingga karya ilmiah dan riset vokasi kampus dapat terus dihadirkan sebagai solusi nyata bagi kemandirian masyarakat luas.











